Tengah malam. Masih terjaga, bahkan untuk memejamkan Mata saja gue ga bisa. Pikiran masih saja terrtuju sama ratusan data yang masih bertumpuk. Udah dua hari ini sistem maintenance sedangkan tanggal cut off tinggal beberapa hari lagi. gue gak takut cape, gue gak takut diberhentikan. Gue cuma khawatir sama tanggung jawab gue, ada ribuan orang yang harus gue pastikan terjamin pelayanan kesehatannya. Ini pengalaman pertama gue menjadi Person In Charge ( PIC ), gue gak pernah ngebayangin sebelumnya bakal sejauh ini. Sedangkan hati kecil gue jujur kalo gue belum layak ada di posisi ini. Semoga gue mampu, semoga revolusi mental yang diterapkan pemerintah bisa berdampak baik untuk kehidupan gue. Semoga gue mampu tidak mengecewakan orang banyak. Selamat malam para pemimpi, tetaplah tertidur.

Tengah malam.

Masih terjaga, bahkan untuk memejamkan Mata saja gue ga bisa. Pikiran masih saja terrtuju sama ratusan data yang masih bertumpuk. Udah dua hari ini sistem maintenance sedangkan tanggal cut off tinggal beberapa hari lagi. gue gak takut cape, gue gak takut diberhentikan. Gue cuma khawatir sama tanggung jawab gue, ada ribuan orang yang harus gue pastikan terjamin pelayanan kesehatannya. Ini pengalaman pertama gue menjadi Person In Charge ( PIC ), gue gak pernah ngebayangin sebelumnya bakal sejauh ini. Sedangkan hati kecil gue jujur kalo gue belum layak ada di posisi ini. Semoga gue mampu, semoga revolusi mental yang diterapkan pemerintah bisa berdampak baik untuk kehidupan gue. Semoga gue mampu tidak mengecewakan orang banyak. Selamat malam para pemimpi, tetaplah tertidur.

“Beberapa orang harus disakiti agar terus berbenah.”
Curhat Admin kurniawangunadi: Beberapa hari ini, saya dan duo admin yang bawel dan doyan makan mengerjakan data di salah satu internet cafe di Jalan Kaliurang sambil ngobrol ngalor ngidul. Dari begitu banyak data yang masuk, pernah tidak teman-teman merasakan di posisi admin yang begitu pusing melihat logo apps WA dan Line yang notifikasinya bergerak naik. Begitu banyak data yang mengalami pembetulan. Dan admin begitu sabar membalas satu-satu meski telat. Untuk menghibur diri ditengah banyaknya data yang rasanya tidak selesai-selesai dan kami mengalami beberapa kali eror-system di web, kami memilih bercerita. Salah satu diantara admin akan pergi merantau ke pelosok negeri untuk tugas pengabdian negara sampai sekitar tahun 2017. Mungkin dia akan melewatkan momen kondangan pernikahan saya, admin saya yang satu lagi, dan banyak teman-teman yang lain. Melewatkan begitu banyak momentum perubahan teman-teman sebaya-seperjuangan adalah sebuah bentuk pengorbanan yang cukup menarik. Di usia kita, ditengah kita sibuk membangun jati diri, membangun karir, membangun masa depan. Kita tidak menyangka bahwa teman sepermainan kita dulu ketika kuliah, di organisasi, dan lain-lain sedang akan mengalami perubahan fase kehidupan. Kita tidak sempat mengetahui kalau perubahan itu terjadi. Besok-besok ketemu dan tahu-tahu sudah menggandeng anak ketika kita sibuk dengan hal-hal yang kita lakukan. Kadang kebahagiaan itu begitu terusik dengan mendengar kabar bahagia orang lain. Mulai membandingkan dengan proses hidup yang sedang dijalani sendiri. Setiap orang tengah berjuang, untuk membangun masa depan kita perlu mengorbankan begitu banyak kesenangan hari ini. Tidak ada kemudahan yang melahirkan orang yang kuat. Begitu hukumnya, kan? Semoga pengorbanan kita di masa muda, dalam bentuk apapun, dalam bentu waktu, kebahagiaan, jarang ketemu orang tua, tidak bisa menghadiri hari bahagia teman, susah dihubungi, dan lain-lain akan berbuah manis esok hari. Esok ketika hari ini sudah terlewati beberapa tahun, ketika kita semua berkumpul di meja yang sama dengan wajah yang berbeda dan segudang cerita. Hari dimana reuni adalah berbagi kebahagiaan, bukan pamer kekayaan. Hari dimana reuni adalah ajang untuk mengenang, bukan memenangkan dirimu dari orang lain. Selamat berjuang untuk hari ini. ©kurniawangunadi

Curhat Admin

kurniawangunadi:

Beberapa hari ini, saya dan duo admin yang bawel dan doyan makan mengerjakan data di salah satu internet cafe di Jalan Kaliurang sambil ngobrol ngalor ngidul.

Dari begitu banyak data yang masuk, pernah tidak teman-teman merasakan di posisi admin yang begitu pusing melihat logo apps WA dan Line yang notifikasinya bergerak naik. Begitu banyak data yang mengalami pembetulan. Dan admin begitu sabar membalas satu-satu meski telat.

Untuk menghibur diri ditengah banyaknya data yang rasanya tidak selesai-selesai dan kami mengalami beberapa kali eror-system di web, kami memilih bercerita.

Salah satu diantara admin akan pergi merantau ke pelosok negeri untuk tugas pengabdian negara sampai sekitar tahun 2017. Mungkin dia akan melewatkan momen kondangan pernikahan saya, admin saya yang satu lagi, dan banyak teman-teman yang lain. Melewatkan begitu banyak momentum perubahan teman-teman sebaya-seperjuangan adalah sebuah bentuk pengorbanan yang cukup menarik.

Di usia kita, ditengah kita sibuk membangun jati diri, membangun karir, membangun masa depan. Kita tidak menyangka bahwa teman sepermainan kita dulu ketika kuliah, di organisasi, dan lain-lain sedang akan mengalami perubahan fase kehidupan. Kita tidak sempat mengetahui kalau perubahan itu terjadi.

Besok-besok ketemu dan tahu-tahu sudah menggandeng anak ketika kita sibuk dengan hal-hal yang kita lakukan.

Kadang kebahagiaan itu begitu terusik dengan mendengar kabar bahagia orang lain. Mulai membandingkan dengan proses hidup yang sedang dijalani sendiri. Setiap orang tengah berjuang, untuk membangun masa depan kita perlu mengorbankan begitu banyak kesenangan hari ini. Tidak ada kemudahan yang melahirkan orang yang kuat. Begitu hukumnya, kan?

Semoga pengorbanan kita di masa muda, dalam bentuk apapun, dalam bentu waktu, kebahagiaan, jarang ketemu orang tua, tidak bisa menghadiri hari bahagia teman, susah dihubungi, dan lain-lain akan berbuah manis esok hari.

Esok ketika hari ini sudah terlewati beberapa tahun, ketika kita semua berkumpul di meja yang sama dengan wajah yang berbeda dan segudang cerita. Hari dimana reuni adalah berbagi kebahagiaan, bukan pamer kekayaan. Hari dimana reuni adalah ajang untuk mengenang, bukan memenangkan dirimu dari orang lain. Selamat berjuang untuk hari ini.

©kurniawangunadi

Gaya Hidup kurniawangunadi: Kapan terakhir kali kita melihat teman-teman kita yang dulu begitu sederhana? Dengan pakaiannya yang terlihat tidak begitu mencolok, potongan rambutnya yang biasa, tidak sibuk dengan handphonenya dan begitu banyak kesederhanaan lain yang bisa ditemukan? Hari ini, seiring waktu semuanya telah berubah. Gaya hidup ditempat menuntut ilmu di kota besar telah turut memengaruhi gaya hidupnya. Kita pun tidak bisa menafikan bahwa itu adalah sebuah efek dari rentetan panjang interaksi seseorang dengan teman dan lingkungan. Terpaan media, kemampuan finansial yang memadai, ditambah dukungan media sosial untuk mengunggah aktivitas yang pada dasarnya hari ini adalah gaya hidup. Pakaian tidak lagi menjadi sekedar pakaian, makanan tidak hanya lagi untuk mengeyangkan, olahraga pun tidak lagi hanya untuk menyehatkan dan rutinitas, semuanya telah menjadi gaya hidup. Aktivitas yang menuntut nilai lebih baik dari segi tempat, waktu, fasilitas, dan biaya. Kita tidak bisa menyalahkan dan hal ini pun tidak tentang salah dan benar. Kita, mungkin hanya aku saja, rindu sekali dengan sosok-sosok sederhana. Orang-orang yang bersedia tampil sebagai dirinya sendiri, orang-orang yang tak segan untuk mengemukakan pemikirannya. Begitu banyak pemikiran yang terbeli oleh gaji jutaan, begitu banyak kesederhanaan yang tergadai di tempat makan, begitu banyak kebijaksanaan yang hilang di jalanan. Di mana lagi bisa kita temukan yang demikian, kecuali kita mau berjalan menelusuri negeri ini. Menemukan orang-orang yang bijaksana dan sederhana dan kita belajar darinya. Belajar bagaimana membuat hidup ini bahagia tanpa memikirkan jumlah uang, pekerjaan mapan, dan ketakutan pada kemiskinan. Yogyakarta, 21 September 2015 | ©kurniawangunadi

Gaya Hidup

kurniawangunadi:

Kapan terakhir kali kita melihat teman-teman kita yang dulu begitu sederhana? Dengan pakaiannya yang terlihat tidak begitu mencolok, potongan rambutnya yang biasa, tidak sibuk dengan handphonenya dan begitu banyak kesederhanaan lain yang bisa ditemukan?

Hari ini, seiring waktu semuanya telah berubah. Gaya hidup ditempat menuntut ilmu di kota besar telah turut memengaruhi gaya hidupnya. Kita pun tidak bisa menafikan bahwa itu adalah sebuah efek dari rentetan panjang interaksi seseorang dengan teman dan lingkungan.

Terpaan media, kemampuan finansial yang memadai, ditambah dukungan media sosial untuk mengunggah aktivitas yang pada dasarnya hari ini adalah gaya hidup. Pakaian tidak lagi menjadi sekedar pakaian, makanan tidak hanya lagi untuk mengeyangkan, olahraga pun tidak lagi hanya untuk menyehatkan dan rutinitas, semuanya telah menjadi gaya hidup. Aktivitas yang menuntut nilai lebih baik dari segi tempat, waktu, fasilitas, dan biaya.

Kita tidak bisa menyalahkan dan hal ini pun tidak tentang salah dan benar. Kita, mungkin hanya aku saja, rindu sekali dengan sosok-sosok sederhana. Orang-orang yang bersedia tampil sebagai dirinya sendiri, orang-orang yang tak segan untuk mengemukakan pemikirannya.

Begitu banyak pemikiran yang terbeli oleh gaji jutaan, begitu banyak kesederhanaan yang tergadai di tempat makan, begitu banyak kebijaksanaan yang hilang di jalanan. Di mana lagi bisa kita temukan yang demikian, kecuali kita mau berjalan menelusuri negeri ini. Menemukan orang-orang yang bijaksana dan sederhana dan kita belajar darinya. Belajar bagaimana membuat hidup ini bahagia tanpa memikirkan jumlah uang, pekerjaan mapan, dan ketakutan pada kemiskinan.

Yogyakarta, 21 September 2015 | ©kurniawangunadi

Terimakasih Tidak ada kata diatas kata terima kasih atas semua karuniamu selama 26 tahun ini ya Allah. kejadian demi kejadian telah aku lewati. aku sadar ya Allah, bahwa selama hidupku engkau hanya memberiku kebahagiaan, tidak sedikitpun jika aku renungkan bahwa engkau memberiku kesedihan dan kesusahan. segala masalah yang hadir dalam hidupku selama ini, itu semua karena aku yang menciptakan lalu engkaulah yang menunjukan solusinya. Ya allah bimbing aku terus untuk memperbaiki diri, memberikan yang terbaik untuk semua semampu yang aku bisa. Sungguh tidak ada dosa yang aku ketahui besar kecilnya selama ini. yang ku tahu pasti, engkau maha mengetahui isi hati. maka aku berserah padamu atas segala asumsi, opini, dan isu yang berkembang dilingkunganku saat ini. Ya Allah, maaf jika aku keliru jika selama ini selalu meminta materi dunia kepadamu, padahal ampunan untuk akhiratlah yang lebih aku butuhkan. Terimakasih Ya allah untuk apapun yang telah engkau berikan selama 26 tahun hingga detik ketika aku menutup tulisan ini.

Terimakasih

Tidak ada kata diatas kata terima kasih atas semua karuniamu selama 26 tahun ini ya Allah. kejadian demi kejadian telah aku lewati. aku sadar ya Allah, bahwa selama hidupku engkau hanya memberiku kebahagiaan, tidak sedikitpun jika aku renungkan bahwa engkau memberiku kesedihan dan kesusahan. segala masalah yang hadir dalam hidupku selama ini, itu semua karena aku yang menciptakan lalu engkaulah yang menunjukan solusinya.

Ya allah bimbing aku terus untuk memperbaiki diri, memberikan yang terbaik untuk semua semampu yang aku bisa.

Sungguh tidak ada dosa yang aku ketahui besar kecilnya selama ini. yang ku tahu pasti, engkau maha mengetahui isi hati. maka aku berserah padamu atas segala asumsi, opini, dan isu yang berkembang dilingkunganku saat ini.

Ya Allah, maaf jika aku keliru jika selama ini selalu meminta materi dunia kepadamu, padahal ampunan untuk akhiratlah yang lebih aku butuhkan.

Terimakasih Ya allah untuk apapun yang telah engkau berikan selama 26 tahun hingga detik ketika aku menutup tulisan ini.

ikawardani31:
“#petir #dee #favoritepart
”
“Sopan santun itu seperti oli pada mesin.”
“Uang itu perlu, sangat perlu. Tapi uang bukanlah segalanya”